THEME BY
Cinderella's Brother
Minggu, 31 Oktober 2010
Pagi yang begitu indah, burung-burung berkicauan dengan suara yang merdu. Di seberang jalan raya yang sepi, terlihat seorang anak perempuan sedang membersihkan dedaunan yang berserakan di halaman rumahnya. “Tiffany” panggil ibunya, “apa bu??” sahut Tiffany, “kamu sudah selesai menyapu halaman depan?” tanya ibu, “emm.. mungkin sebentar lagi aku selesai membersihkannya” jawab Tiffany, “yasudah teruskan dulu pekerjaan mu, ibu mau pergi ke supermarket sebentar, sambil kamu menyapu sekalian jaga rumah ya.” Suruh ibu, “huh..(menghembuskan nafas) baiklah bu” jawab Tiffany, “kalau begitu  ibu pergi dulu ya, hati-hati di rumah” kata ibu sambil melangkah pergi, “ya dada ibu” teriak Tiffany. “huft.. capeknya nyapu halaman, pake disuruh jaga rumah segala” keluh Tiffany.
“Aduh..beli apa ya? Banyak banget.. bagus-bagus pula” kata ibu sambil berpikir, “sepertinya ini lebih bagus.. ya.. ini saja” kata ibu dengan senyum di wajahnya. Ketika ibu sedang berjalan menuju kasir, “GUBRAK” ibu ditabrak seorang laki-laki berseragam jas warna hitam dan semua belanjaan ibupun jatuh. “oh. Maaf-maaf saya tidak melihat mu sedang jalan, mari saya bantu” kata lelaki itu, “oyaa.. terimakasih..” kata ibu Tiffany, “ tidak apa-apakan kamu.. apakah ada yang terluka??” tanya lelaki itu dengan nada panik, “tidak apa-apa kok..” kata ibu , “huh (menghembuskan nafas dengan lega) saya kira kamu terluka, ya sudah kalau begitu mari saya antar ke kasir” ajak lelaki itu, “o ya” kata ibu
Saat dalam perjalanan pulang, lelaki yang menabrak ibu tadi lewat di depannya dengan menggunakan mobil mewah, “maaf  mari saya antar pulang kerumah” kata lelaki itu sambil membuka kaca jendela mobilnya, “oohh.. tidak usah, saya bisa jalan sendiri kok..” kata ibu dengan nada menolak, “tidak apa-apa” kata lelaki itu sambil keluar dari mobil dan membukakan pintu  untuk ibu, “ohh…. Baba..iklah” sahut ibu dengan nada patah-patah sambil masuk ke dalam mobil lelaki itu, dengan cepat lelaki itu menutup pintu mobilnya dan mulai menyetir mobil mewahnya. “oya.. dimana rumah mu??” tanya lelaki itu, “di jalan sakura nomor 18” jawab ibu dengan cepat, “kalau begitu dekat dengan kantorku..” jawab lelaki itu. Dengan polosnya, ibu menjawabnya “oya”. “ngomong-ngomong, siapa nama mu?” tanya lelaki itu, “nama saya lina.” Jawab ibu, “em.. nama saya alexander” kata lelaki itu.
Lima belas menit kemudian, ibu sampai di rumahnya. “terimakasih.. karena telah menghantarkan saya sampai ke rumah.” Kata ibu sambil menundukkan kepala, “sama-sama, mau ku antar masuk?” tanya lelaki itu, “ohh.. tidak perlu.. saya bisa jalan sendiri” jawab ibu , “baiklah.. saya permisi dulu” kata lelaki itu sambil masuk ke mobilnya, ibu hanya sedikit menundukkan kepala lalu pergi menuju pintu rumahnya. “ibu.. tadi itu siapa?” tanya Tiffany ,“ooh.. itu tadi orang yang menabrak ibu di supermarket” jawab ibu dengan nada polos, “tapi.. kenapa orang itu mau mengantar ibu sampai ke rumah?? Apa jangan-jangan itu calon ayah ku yang baru ya.. yakan bu.. mengaku saja haha (tertawa)” tanya Tiffany sambil meloncat-lonca, “haissh… diam! Ibu saja tidak kenal, kenapa nyambung jadi calon ayah mu?? sudah sana makan dulu.” Kata ibu, “ya.. maaf bu.. kan aku hanya bercanda” kata Tiffany dengan nada yang menyesal, “yasudah sana cepat makan.. di meja makan, iu tadi sudah siapkan pizza keju.” Suruh ibu, “oke..bu.. sip..akan ku habiskan dalam sekejap.. terimakasih ibu.. “ kata Tiffany sambil mencium pipi ibunya, ibu pun menghela nafas dan mengatakan “Tiffany..Tiffany.. kau ini sama seperti ayahmu,  sayang ayahmu sudah tiada..”
Pagi hari yang indah, siang hari yang hangat dan matahari ternbenam di sore hari sudah terlewati. Tiba saatnya hawa malam yang dingin menyelimuti tubuh Tiffany. Tiffany yang sudah mengantuk masih berada di depan meja belajar untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Ibunya hanya mengintip dari pintu kamarnya yang terbuka sedikit sambil berkata dari dalam hati “ aku bangga memiliki anak seperti mu Tiffany, anak yang taat kepada Tuhan, orang tua dan gurumu.. semoga kau diberkati Tuhan selalu. Amin.” “hoam.. ngantuk mana tugas belum selesai lagi.” Kata Tiffany sambil menguap, “tidur ah..capek seharian bersihin rumah, haru ngerjain tugas setumpuk” kata Tiffany dengan nada mngeluh. Segera Tiffany beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil dan menggosok gigi. Lalu, Tiffany pun bergegas mengganti pakaiannya dengan piama kesukaannya, “oya.. jangan sampai lupa lagi berdoa sebelum tidur.” Kata Tiffany, dengan sikap berdoa yang baik dan benar segeralah Tiffany berdoa dan mengatakan “ya Tuhan.. barkatilah aku dalam sekolah ku dan untuk tugas-tugasku agar cepat selesai dengan tepat waktu,  juga untuk ibuku, berkatilah dia Tuhan, amin.” Dengan cepat Tiffany merubuhkan badanya ke kasur dan menarik selimut agar menutupi badannya. Karena, malam itu sangat dingin, dengan reaksi yang cepat,  mata Tiffany mulai tertutup dengan perlahan-lahan.
Malam yang dingin sudah terlewati, saatnya Tiffany bangun dari tidur nyenyaknya. “hoam..(menguap) sudah pagi ya?” kata Tiffany sambil menguap, ibu yang berada di sampan Tiffany berkata hingga mengejutkan Tiffany “iya… sana cepat mandi”, dengan nada kaget Tiffany berkata “Hah.. ibu.. kenapa ada disini, ngagetin aja, kukira siapa”, “yayaya.. cepat sana keluar kamar, mandi teus makan, nanti telat kesekolah” kata ibu dengan nada memerintah, “baik bu..” kata Tiffany sambil bermalas-malasan menuju kamar mandi. “lala..lala” suara nyanyian Tiffany dari kamar mandi, dengan sedikit berteriak ibu mengatakan “hei.. mandi enggak usah pakai konser, enggak ada yang mau nonton kamu. Cepet mandinya!”, “iya..iya… lagian aku enggak konser kok..” kata Tiffany dengan nada ketus. Sepuluh menit kemudian, Tiffany keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk ditubuhnya. “segera pakai baju, makan teus berangkat sekolah” kata ibu, “fufuu (bersiul) ok..ok..” kata Tiffany dengan santai. Setelah Tiffany selesai makan dan memakai sepatu. Tiba-tiba lelaki yang bernama Alexander yang pernah menabrak ibu saat di supermarket, berhenti didepan rumah Tiffany dengan mengendarai mobil mewah berwarna hitam berkilauan. “Permisi.. ada orang?” kata Alexander, “oh..maaf, bukannya anda kemarin yang menghantar ibu ke rumah ya?” kata Tiffany, dari belakang dapur ibu berkata dengan sedikit teriak “Tiffany, kamu ketemu sama siapa?”, “sama orang yang menghantar ibu kemarin pulang kerumah yang katanya ibu, nabrak ibu di supermarket” jawab Tiffany, dengan cepat ibu pun berlari menuju ruang tamu, “kenapa kau ada disini? Mau apa?” tanya ibu, dengan sedikit menggumam Alexander menjawab “karena aku melewati depan rumahmu dan mungkin jam-jam ini anakmu ingin pergi kesekolah, jadi aku mampir”, “apakah kau mau menghantar anak ku?” tanya ibu lagi, “sepertinya anakmu dengan anakku sejalur. Jadi, mari kuhantar kesekolah” kata Alexander, “apakah tidak merepoti bapak?” tanya Tiffany, “tenang.. tidak apa-apa, ayo.. segera berangkat nanti telat sampai sekolah” kata Alexander, ibupun berkata “baiklah, terimakasih, hati-hati di jalan yaa..”, “kalau begitu kami semua pamit” kata Alexander sambil masuk ke mobil. Saat mobil Alexander berangkat, ibu melambaikan tangannya dengan tersenyum gembira, sambil berkata dalam hati, “ya Tuhan.. apa benar kata Tiffany, kalau dia itu akan jadi suami ku? Kalau benar, biarkanlah dia menjadi suami yang baik, tapi kalau tidak, jauhkanlah dia dari aku Tuhan.. Amin.”
“Haduh.. aku malau.. pasti di sekolah ditanyain sama teman-teman.. waduh imana ini Tuhan.. tolong aku, anak kecil disebelah ku juga kayaknya sirik sama aku Tuhan.. semoga tidak terjadi apa-apa. Amin” kata Tiffany di dalam hati sambil berdoa, dengan nada sirik, anak yang duduk di sebelah Tiffany berkata “ih.. siapa sih orang ini.. dari penampilannya kayak orang miskin, enggak pintar, jelek pula.. haduh.. kenapa ayah bisa bawa orang kayak gini ya??”, “tuh..kan benar. Dia pasti mengira aku orang aneh.., ah.. yasudah lah.. biarkanlah orang berkata apapun yang penting aku tidak salah apa-apa” kata Tiffany dengan nada cemas. Dua puluh menit kemudian, Tiffany sampai disekolahnya, dengan terburu-buru, Tiffany keluar dari mobil lalu mengucapkan “terimakasih ya..om atas tumpangannya”, “sama-sama.. kalau begitu om terusan ya..” kata Alexander dari dalam mobil, sambil ingin berlari menuju kelas, Tiffany berkata “ya..om.. hati-hati.” Tiba-tiba teman Tiffany yang bernama Sunny berteriak “TIFFANY..” dengan berteriak juga Tiffany menjawab “APA?” , “enggak apa-apa.. eh.. tadi itu siapa?” tanya Sunny, “oh.. tadi itu ehm.. teman ibuku.. kenapa?” jawab Tiffany, dengan suara yang keras Sunny berkata “berarti kalau itu tadi teman ibumu.. jangan-jangan sebentar lagi jadi ayah baru mu.. hahahaa (tertawa) asyik…” dengan cepat, Tiffany menutup mulut Sunny dengan kedua tangannya sambil berkata “hushhh…. Jangan keras-keras ngomongnya.. kamu itu malu-maluin..,” “ya… maaf.. keceplosan” kata Sunny dengan sedikit tertawa, “hah.. ya sudah.. dari pada ngomongin temannya ibu ku.. mending kita masuk kelas aja ya..” kata Tiffany dengan buru-buru, “oya.. aku mau tanya, tadi anak yang ada di dalam mobil itu siapa?” tanya Sunny, “ ohh.. itu.. enggak tahu aku..” jawab Tiffany, “hmm.. kukira tahu..”, “tapi, kayaknya anak itu ngatain aku yang enggak-enggak deh, pakai bilang aku anak miskin lah.. enggak pinter lah.. hadoh.. banyak cobaan” kata Tiffany sambil menghela nafas, “eh.. tapi jangan berprasangka buruk dulu lho..” kata Sunny, “iya..iya. ya, sudah.. kita dari tadi disini malah enggak masuk kelas.. ayo masuk” ajak Tiffany, “sip.. boss.. “ jawab Sunny dengan mengacungkan kedua jempolnya. Setelah mereka berdua masuk kelas, bel masuk pun berbunyi tiga kali, pelajaran di kelas mereka mulai berlangsung, dengan wajah yang gembira dan semangat yang berkobar-kobar, mereka melewati semua pelajaran dengan baik, sampai ahkirnya waktu untuk pulang pun tiba. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengan suara seorang laki-laki berteriak memanggil seseorang “TIFFANY..” teriak Alexander dari dalam mobil, “oh.. ada yang memanggil “ kata Tiffany bingung, “disini.. di parkiran mobil “ teriak Alexander, “oh… maaf om.. aku enggak tahu.. ada apa om?” tanya Tiffany sambil mendekati mobil Alexander, “ayo pulang..” kata Alexander, “pulang? Di anter om lagi??” tanyanya lagi, “iya.. cepat naik, nanti ibu kamu nyariin lagi” kata Alexander, “ehm.. kalau begitu saya masuk ya om..?” tanya Tiffany, “silahkan.. segera kita pulang” kata Alexander, tidak lupa, Tiffany melambaikan tangan pada sahabatnya, Sunny “dada.. Sunny..” teriak Tiffany dari dalam mobil, “dada.. Tiffany.. hatii-hati” teriak Sunny sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang ditumpangi Tiffany, dari kejauhan terlihat Tiffany melambaikan tangannya juga dari dalam jendela mobil.
“Kenapa pada diam, ayo ngomong saja, tidak apa-apa” kata Alexander sambil menyetir mobil, “oh.. i..iya om” kata Tiffany dengan malu-malu, dari dalam hati Tiffany berkata “haduh.. garing lagi deh.. kayaknya bener-bener deh ini anak yang duduk disebelah ku benci banget sama aku, emangnya aku salah apa coba? Ya Tuhan Yesus.. tolong aku.. lama-lama bisa kehabisan nafas disini.” Tiba-tiba, seorang anak laki-laki yang ada disebelah Tiffany berkata “hai… kak..” kata anak laki-laki itu, “oh.. hai..” kata Tiffany dengan malu-malu, “nama kakak siapa?” kata anak laki-laki itu sambil tersenyum, “nama ku.. Tiffany, kamu siapa?” kata Tiffany sambil memandangi muka anak lelaki itu, “nama aku.. jake” kata jake, “oh.. begitu hehe (tertawa)” kata Tiffany dengan sedikit tertawa, “tapi, aku sedikit meragukan anak ini, jake? Nama yang bagus, semoga dia enggak bener-bener sebel sama aku. Amin” kata Tiffany dalam hati. “Tiffany, ayo turun, kamu sudah sampai rumah” suruh Alexander, “oh.. baik om” kata Tiffany sambil membuka pintu mobil, setelah keluar dari mobil, Tiffany segera menutup pintu mobil dan menundukkan kepalanya sambil berkata “terimakasih om”. Lalu, Tiffany mengangkat kepalanya dan berkata lagi “maaf, saya sudah merepoti om”, “tidak apa-apa, yasudah saya duluan ya.. dada..” kata Alexander sambil melambaikan tangan ke arah Tiffany dan menutup jendelanya, “bye.. kak Tiffany” teriak Jake dari dalam mobil, “dada.. Jake” teriak Tiffany sambil melambaikan tangan ke arah Jake. Dari belakang ibu pun memanggil Tiffany “Tiffany…!”, Tiffany langsung membalik badannya kea rah ibunya dan berkata “ apa bu..?”, “ cepat masuk” kata ibu dengan sedikit berteriak, dengan cepat Tiffany berlari dan masuk ke rumahnya, “ada apa bu?” tanya Tiffany, “kamu tadi dijemput om Alexander ya?” tanya ibu, “iya bu.. “ jawab Tiffany, “jadi merepoti” kata ibu, “ya.. tapi kalau ditawari, ditolak juga enggak enak kan bu..”kata Tiffany, “ya juga sih,  ya sudah.. cepat ganti baju terus makan” suruh ibu, “baik bu” kata Tiffany sambil mengacungkan kedua jempolnya. Saat mereka berdua sedang makan, ibu selalu bertanya dalam hati “ kenapa, Alexander selalu perhatian dengan anak ku dan aku? Apakah yang dikatakan Tiffany itu benar? Dia akan menjadi ayah baru bagi Tiffany?” “ibu.. aku mandi dulu ya.. nanti aku mau pergi ke rumah Sunny, mau mengerjakan tugas” kata Tiffany sambil memandangi muka ibunya yang sedang melamun, “bu… ibu…” kata Tiffany sambil menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata ibunya, “oh.. iya nak.. maaf, ibu sedang capek, jadinya sering melamun” kata ibu tiba-tiba, “baik bu, kalau begitu aku ke kamar dulu ya” kata Tiffany sambil menuju kamarnya. “Kira-kira, ibu ngelamunin siapa ya? Kok kayaknya dari tadi diem mulu?” tanya Tiffany dalam hati. Selesai mandi, Tiffany segera ganti baju. Lalu, berpamitan dengan ibu dan pergi ke rumah Sunny dengan menggunakan sepeda gunungnya, “dada ibu..” teriak Tiffany sambil melaju pergi, “hati-hati dijalan ya nak..” kata ibu dengan sedikit berteriak.
Setelah dua tahun kemudian, Alexander berhubungan dengan ibu Tiffany yang seorang janda beranak satu, sedangkan Alexander, duda beranak satu. Karena istri Alexander sudah tiada dan karena Alexander sudah lama berhubungan dengan ibu Tiffany, Alexander memutuskan untuk menikahi ibu Tiffany. Pada bulan agustus tanggal enam belas, pernikahan mereka berdua digelar dengan meriah di sebuah gereja terbesar di daerah itu, ahkirnya Jake anak laki-laki Alexander menjadi adik Tiffany. Mereka berempat menjadi satu keluarga dan tinggal satu rumah, lembar kehidupan yang baru telah dibuka oleh mereka. Tapi, Tiffany merasa Jake sangat tidak menyukai Tiffany, karena Jake iri hati dengan Tiffany. Semenjak Tiffany dengan ibunya tinggal dirumah Jake, semua perhatian ayahnya yang tadinya diberikan kepada Jake, sekarang ayahnya labih perhatian dengan Tiffany, juga karena Tiffany adalah anak yang pintar, penurut dan mau berusaha. “thok..thok..thok..thok…” suara sepatu Jake yang terdengar yang menuju ruang kerja ayahnya, “ayah..” panggil Jake, “ada apa nak” jawab ayah, “yah.. kenapa aku harus punya kakak seperti kak Tiffany yah?” tanya Jake dengan nada kesal, kembali ayah bertanya kepada Jake “sayang, memangnya kenapa kalau kamu punya kakak seperti kak Tiffany?” “soalnya, ayah itu lebih perhatian sama kak Tiffany dari pada aku!” kata Jake dengan nada membentak, “enggak lah nak, buktinya kamu masih tinggal disini dan tidak mungkin kalau kamu tidak ayah perhatikan” kata ayah dengan halus, “ah.. (sambil mengacak-ngacak rambut) “ teriak Jake sambil melangkah pergi menuju pintu ruang kerja ayahnya. Tidak sengaja, Tiffany mendengar pembicaraan ayah dengan Jake, “waduw.. ada apa ya? Kok kayaknya Jake marah sama om Alexander.. eh salah.. ayah?” kata Tiffany dengan bisik-bisik di depan pintu ruang kerja ayah, tiba-tiba Jake keluar dari dalam ruang kerja ayahnya dan dengan cepat Tiffany memegang tangan Jake dan bertanya “Jake.. ada apa? apakah kamu marah dengan ayah?” tanya Tiffany dengan nada lembut, “lepaskan tanganku! “ bentak Jake, “ jawab dulu pertanyaan kakak “ kata Tiffany, “itu bukan urusan mu kak, cepat lepaskan tangan ku “ bentaknya lagi sambil melepaskan tangannya dari genggaman Tiffany, “aduh.. (sambil memegang tangannya) anak itu kasar ya.. lama-lama. Tuhan berkatilahh dia. Amin” kata Tiffany sambil berdoa.
Saat memasuki hari-hari menjelang ujian nasional, Tiffany pun belajar dengan giat. Karena, satu minggu lagi, Tiffany akan menghadapi ujian nasional tingkat SMA, sedangkan Jake yang tinggal menghitung hari untuk menghadapi ujian nasional tingkat SD, sangat santai, bukannya belajar tetapi bermain game dengan enaknya dan tidak memikirkan, apakah dia nanti akan lulus atau tidak dan berapa nilainya. Orangtua nya sudah menasehati dan mengajari beberapa pelajaran yang akan di ujikan untuk ujian nasional nanti. Tetapi, apa yang dilakukan Jake? Jake hanya mengabaikan nasihat orangtuanya dan bermalas-malasan. “Tiffany.. ayo makan dulu, belajarnya di lanjutkan nanti lagi” panggil ibunya, “baik bu..” kata Tiffany sambil beranjak dari tempat duduknya. Keadaan di ruang makan saat mereka makan malam bersama, terasa sangat dingin, tidak ada yang berbicara satu kata pun. “ayo dong pada ngomong, masak diam-diaman?” kata ayah sambil memeotong makanan yang ada di piringnya, dengan serempak Jake dan Tiffany berkata “ya ayah.” Ketika mereka selesai makan malam, ayah berkata kepada Jake sambil memegang pundak Jake, “Jake kamu harus belajar ya.. tirulah kakak mu, “ dengan nada jengkel, Jake berkata “hah.. kakak lagi..” sambil melepaskan tangan ayah dari pundaknya dan berjalan menuju kamarnya, “ih.. kenapa selalu kakak terus yang harus dipuji” kata Jake sambil menutup pintu kamarnya dengan keras, Tiffany yang lewat didepan kamarnya kaget “a… (teriak Tiffany) haduh.. ni anak memang benar-benar benci sama aku, emang salah ku apa?” dengan cepat, Tiffany berlari menuju kamarnya dan kembali melanjutkan belajarnya. Tetapi, sebelum ia belajar, ia berdoa dari dalam hati “ya Tuhan, aku akan melanjutkan belajar ku, semoga semua pelajaran yang telah aku pelajari dapat aku serap dalam otakku dan berkatilah adikku, semoga dia mau belajar amin,” dari balik pintu, ayah melihat Tiffany berdoa dan belajar dengan sungguh-sungguh, ayah berkata di dalam hati “ seandainya anakku Jake seperti Tiffany dari dulu pasti hatiku akan bangga.”
Pagi hari yang cerah disambut hangat oleh Tiffany “selamat pagi..” teriak Tiffany sambil menguap, “mandi ah..” kata Tiffany sambil turun dari tempat tidurnya, Tiffany sudah bangun, tetapi Jake masih tidur dengan pulasnya, “Jake.. bangun” kata ibu, sambil mengusap-usap matanya, dengan santainya jake berkata “aa… nanti saja bangunnya, kan masih jam empat pagi”, “siapa bilang ini masih jam empat pagi, sekarang sudah jam setengah tujuh pagi, ayo bangun nanti telat kesekolah”, karena kaget, Jake langsung bangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi, “dasar anak.. sukanya bangun kesiangan terus” kata ibu. “Haduh.. Jake lama banget.. nanti aku bisa telat, tuh kan dah jam tujuh kurang lima, aduh” kata Tiffany sambil mondar-mandir di ruang tamu dan menggaruk-garuk kepalanya, ayahnya tiba-tiba datang dan berkata “Tiffany, ayo berangkat nanti kamu telat”, “tapi Jake belum selesai mandi” kata Tiffany, “biarkanlah saja, biar dia telat” kata ayah sambil berjalan menuju mobil, “jangan ayah, kasian Jake, tidak apa-apa aku telat” kata Tiffany, “benar tidak apa-apa?” tanya ayah, “benar, kan Jake juga adikku, aku sebagai kakak tidak boleh egois” jawab Tiffany, “ayah.. aku sudah selesai, ayo berangkat” teriak Jake sambil berlari menuju mobil, “ayo yah.. kita berangkat”, “eits.. tunggu dulu, berdoa dulu”, “ah.. kenapa harus berdoa, nanti telat” kata Jake, “berdoa enggak berdoa juga kamu sudah telat” kata ayah, “ayo segeralah berdoa” kata ibu tiba-tiba, dengan mengambil sikap berdoa, ayah berkata “ya Tuhan, sebentar kami akan berangkat ke sekolah dan ke kantor, semoga kami sampai di tempat tujuan dengan selamat amin” “ayo berangkat!!” kata Jake.
Sesampainya Tiffany disekolah, “dada.. ayah, ibu, Jake” kata Tiffany sambil melambaikan tangannya ke arah mobil, tetapi tidak dilihatnya Jake melambaikan tangannya kepada Tiffany seperti waktu pertama kali bertemu, “ah.. terserahlah..” kata Tiffany sambil masuk ke dalam sekolahnya, saat ingin menuju kelas, tiba-tiba bapak kepala sekolah menghampiri Tiffany, “kenapa kamu telat? Tidak biasanya” tanya pak kepala sekolah, dengan menundukkan kepala, Tiffany menjawab “em… adik saya bangunnya kesiangan, jadi saya ikut telat juga pak”, “oh.. yasudah kalau begitu, cepat masuk kelas dan jangan diulangi lagi” kata pak kepala sekolah, “baik pak, termakasih” kata Tiffany sambil menyalami pak kepala sekolah lalu berlari menuju kelas. “tok..tok.. misi pak” kata Tiffany di depan kelasnya sambil mengetuk pintu kelasnya, “kenapa kamu telat?” tanya pak guru, “tadi adik saya bangun kesiangan, jadi saya juga ikut telat pak” kata Tiffany, “cepat sana duduk, besok jangan telat lagi” kata pak guru, “baik pak, terimakasih” kata Tiffany sambil menundukkan kepala, “tumben telat?” tanya Sunny, “ya tuh.. gara-gara adikku” jawab Tiffany sambil mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya, “oh.. si Jake ya?? “ kata Sunny sambil mencatat apa yang ditulis guru di papan tulis. Tiffany melewati hari-hari disekolah dengan gembira. Seperti biasa, Tiffany pulang dijemput oleh ayahnya dengan mengendarai mobil mewah berwarna hitam. Keseharian Tiffany dan Jake juga kedua orang tuanya di rumah, berjalan seperti biasa, Tiffany selalu belajar dengan keras di dalam kamar, ibu memasak untuk makan malam yang dibantu oleh para pelayan, ayah mengerjakan proyek untuk perusahaannya, sedangkan Jake begitu santai bermain game di kamarnya. Saat selesai makan malam, ayah meminta bantuan kepada Tiffany “ Tiffany, ayah mau minta tolong” kata ayah, “boleh, minta tolong apa?” kata Tiffany, “tolong ajarkan Jake materi-materi untuk UNAS SD” kata ayah, “ehm.. baiklah” kata Tiffany, “terimakasih anakku, kau memang anak baik” kata ayah sambil mengelus-elus kepala Tiffany, “sama-sama ayah” kata Tiffany. Saat Tiffany mengajarkan beberapa pelajaran kepada Jake, Jake selalu membantah semua yang dikatakan Tiffany, sampai mendorong Tiffany hingga jatuh ke lantai, tetapi Tiffany tetap menyayangi Jake apa adanya. Pada saat Tifany pulang sekolah, tiba-tiba handphone Tiffany bergetar “ndret..ndret..” “halo.. ayah” jawab Tiffany lewat telepon, “Tiffany, tolong kamu jemput Jake ya.. naik motor, soalnya ayah lagi ada urusan, jadi enggak bisa jemput”, kata ayah, “oke ayah” kata Tiffany sambil ingin menutup teleponnya, “ Sunny, aku pulang dulu ya, aku harus jemput Jake dulu “ kata Tiffany, “oke.. dada.. hati-hati” kata Sunny, “da…” kata Tiffany sambil melambaikan tangan ke arah Sunny dan beranjak pergi untuk mengambil motornya.
Saat Tiffany sampai di depan sekolah Jake, “ lama banget sih Jake “ kata Tiffany, “ kak, ayo pulang “ kata Jake tiba-tiba, “ oke.. tapi kita harus nyebrang jalan, soalnya motor kakak dapet parkirnya disana” kata Tiffany sambil menunjuk ke arah parkiran sepeda motornya, karena Jake belum bisa menyebrang jalan, Tiffany ingin menggandeng tangannya, tapi Jake melepaskan tangannya dari genggaman Tiffany, saat menyebrang jalan, karena Jake tidak hati-hati, sebuah mobil ingin menabrak Jake, “ Jake.. awas! “ teriak Tiffany, segera Tiffany berlari ke arah Jake dan mendorong Jake ke trotoar. Walaupun keduanya tidak meninggal di tempat, tetapi tetap ada yang terluka. Ternyata Tiffany harus kehilangan kaki kirinya karena luka yang begitu parah dan terjadi pendarahan di otak, dan Tiffany segera dilarikan ke rumah sakit terdekat agar mendapat perawatan intensif, “ayah… ayah…” suara Jake lewat telepon, “ halo.. ada apa Jake?” “ kak Tiffany yah..” kata Jake dengan ketakutan, “ kenapa? Kakak kenapa?” tanya ayah, “kak Tifany kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit, di dekat sekolah Jake!” kata Jake dan langsung menutup ponselnya, “ halo..halo..” kata ayah, dengan segera, ayah menghentikan rapat dan pergi bersama ibu ke rumah sakit.
Dalam hati kecil Jake, dia merasa sangat meyesal atas semua perbuatan jahatnya selama ini kepada kakaknya, “kenapa aku harus berbuat jahat kepada kakak ku? Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri” kata Jake sambil meneteskan air mata. Untung saja ayah dan ibu mau memaafkan Jake, “ Tuhan, maafkan aku, kalau perlu Engkau boleh mengambil nyawaku Tuhan” kata Jake. Tidak lama kemudian dokter keluar dan menyatakan Tiffany tidak dapat tertolong” tiba-tiba Jake berkata “dokter.. ambil kaki dan kepalaku saja, biar kakak ku bisa hidup lagi, tolong dokter” “ Jake jangan seperti itu, mungkin ini sudah jalan yang diberikan Tuhan” kata ibu dengan halus. Lalu, Jake memeluk kedua orang tuanya dan menangis. Dari semua kejadian itu, Jake dapat membenahi kehidupannya, setelah meninggalnya Tiffany, keluarga mereka hidup dengan berkat Tuhan yang berlimpah-limpah, keluarga yang damai dan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kita dapat meniru sifat Tiffany, anak yang mau berusaha dan menyayangi adik laki-lakinya dengan segala kekurangan adiknya, bahkan mau mengorbankan nyawanya untuk adik yang tidak menyayangi Tiffany.
                                                SELESAI
← newer
older →